Dua Ujian
Teng-teng suara bel menunjukan waktu pulang
sekolah berbunyi, saaat itu namun kami siswa kelas 3 Smp tidak langsung pulang
melainkan berlarian menuju mading sekolahan untuk melihat jadwal ujian akhir
sekolah untuk para siswa kelas tiga.Aku tidak ingin kalah,aku berlari
menggunakan tenaga extra dan hasilnya akulah yang paling pertama berdiri di depan mading sekolahan, oh ya..
aku belum memperkenalkan diriku, namaku
ismail marjuki,guru dan teman-temanku memanggilku ismail,aku meliki
tubuh yang tidak terlalu tinggi namun juga tidak terlalu pendek hidungku
mancung, rambutku tipis dan berwarna kecoklatan dan kulitku lumayan bersih.
"senin,MTK,PPKN,IPS" gumamku sambil menekan-nekan kertas yang
ditempelkan dimading sekolahan tersebut. "il,ayo pulang, aku sudah sagat
lapar " bujuk sulemi sambil menggeret tangaanku, Sulemi adalah sahabat
sedesaku ia memiliki tubuh yang besar,berkulit hitam dan juga sering sekali
tidur dan ngeces di meja sekolahan bahkan lemi di jauhi oleh siswi-siswi
sekelas kami karena hal tersebut namun meski demikian sulemi sangat pintar
dalam pelajaran sejarah sehingga terkadang banyak juga siswi yang bertanya
kepadanya tentang pelajaran sejarah. Aku dan lemi termasuk anak yang beruntung
didesa kami karena dari sekian anak yang berada dalam satu desa tempat kami tinggal hanya lemi dan aku yang meneruskan
hingga jenjang SMP. Karena anak-anak yang lain setelah mendapatkan ijasah SD
mereka lebih memilih untuk bekerja menjadi buruh harian di perusahaan Gula yang
cukup besar di daerah tempat kami tinggal,saat itu aku tinggal di desa sidodadi, desa paling
terpencil di kecamatan gedung meneng,kabupaten tulang bawang profinsi
lampung,namun orang tuaku adalah orang jawa timur dan lingkungan di sekitarku
terdiri dari suku jawa dan lampung namun aku lebih sering menggunakan bahasa
jawa yang kasar dari pada menggunakan bahasa jawa timur ataupun lampung.
"woy il,, aku yang laper"
temanku yang satu ini selalu demikian jika mengejek cara bersepedahku
yang lamban dan expresiku yang lesu karena jarak dari rumah ke sekolahku cukup
jauh yaitu kurang lebih 5 km jaraknya,
karena desa kami adalah desa paling ujung di kecamatan gedung meneng. "hei
il,setelah lulus kamu mau kemana? tanya
lemi sambi mengayuh sepedanya,"aku juga gak tau lem,aku belum berfikir
kesan"jawabku ragu. "oh.,kalau begitu kita balapan saja!!"
seperti biasanya lemi selalu menantangku untuk berbalapan sepeda saat pulang
maupun berangkat sekolah, tanpa menjawab aku langsung mempercepat ayuhan
sepedahku sambil tertawa "hahaha...ye ayo kejar aku!!" lemi pun tak
mau kalah,ia langsung mengayuh sepedahnya lebih kencang dariku dan kamipun saling mengejar hingga sampai
desa kami yang jaraknya dari sekolah kurang lebih 8 km. seperti biasa ketika
aku pulang pasti dirumah tidak ada siapa-siapa. Rumahku terbuat dari
bambu,sangat sederhana ibuku membuka warung kecil-kecilan dengan tulisan
"warung Hoki "di dinding bambunya,itu adalah tulisanku yang aku tulis menggunakan cat putih sisa mengecat
pagar untuk persiapan agustusan tahun lalu. ibuku bernama umi hani dia wanita
yang tidak mau mengandalkan ayahku yang hanya pemburuh harian dengan upah Rp
35.000,00/hari dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore, karena itulah ibuku
membantu biaya sehari-hari dengan berjualan tampah,ibuku berkeliling dari desa
kedesa menggunakaan sepedah, bahkan akupun sering membantu ibu berjualan tampah
saat hari minggu. Bapak ku bernama bambang mulyono, dia orang yang telaten
dalam bekerja dan sangat pendiam dan pemalu.bahkan beliau jarang sekali
menghadiri rapat orang tua wali disekolah kami. bukan hanya kami bertiga yang
berada dirumah itu karena aku masih memiliki tiga orang adik yang bernama aji
supriman , ari sholikin , rudi hartono yang masing masing berumur 13,9 dan 4
tahun. Adiku yang bernama aji supriman dan ari sholikin sudah tidak bersekolah,
saat itu aku berfikir karena kenakalan merekalah kenapa mereka tidak mau
bersekolah ditambah semua teman-teman seumuran mereka lebih suka mencari
singkong untuk dijual ke pemasok dibandingkan duduk dan belajar di sekolah, dan
anehnya lagi orang tua mereka justru mendukung pilihan mereka termasuk kedua
orang tuaku yang membiarkan kedua adikku ikut dalam pemikiran anak-anak didesaku
saat itu.selain adik-adiku aku juga memiliki empat orang kakak perempuan dan
satu orang kakak laki-laki yang bernama Edi sujarwo ia sudah menikah dan memiliki
Empat orang anak. Kemudian kakak perempuanku yang pertama bernama Ratna wati mbak ratna sudah memiliki
empat orang anak,kemudian Neli kusmiati dan yuliati mtareka duduk di kelas yang sama yaitu kelas tiga SMA,mereka
tidaklah kembar tetapi karena dulu mbak neli berhenti sekolah selama satu tahun
jadi mbak neli harus bersekoh satu kelas dari mbak yuli. Mbak neli dan yuli
tinggal bersama adik-adik ibuku,karena
keluarga kami tidak mampu membiayai sekolah mereka jadi iorang tuaku menitipkan
mereka kepada adik-adik ibuku yang bisa dibilang kaya dan sukses mereka mengasuh kakak-kakaku saat mereka berusia 8
dan 10 tahun ,kakak perempuanku yang terakhir bernama Rita wahyuni ,beliau
adalah kakak perempuanku yang sering ku panggil uni,wajahnya sangat mirip
denganku,kami juga berada di kelas yang sama uniku ini sama seperti mbak neli
yang berhenti bersekolah selama setahun dikarnakan masalah biaya padahal biaya
sekolah saat itu hanyalah tiga ribu rupiah/bulan karena dulu belum ada bantuan
BOS dari pemerintahan,lalu karena ingin bersekolah uni ku ini memutuskan untuk
ikut bersama nenekku di kabupaten pringsewu beliau adalah ibu dari ibuku dan
nenekku tinggal bersama adik ibuku yang paling bungsu , namun kakak-kakak
perempuanku yang ikut dengan saudara ibuku tidak hanya diasuh kemudian
leha-leha dirumah saja melainkan mereka membantu mengerjakan pekerjaan rumah,maklum
adik-adik ibuku bisa dibilang orang yang kaya dan sibuk.
Saat
itu pukul 24.29 wib aku masih serius dengan buku latihan ujian nasional yang
akan di diadakan pada hari senin, meskipun besok libur namun aku tetap semangat
untuk memngisi setiap pertanyaan nya. "Brakk,,pokoknya sampean harus setuju!!" tedengar suara ibuku
yang seperti biasa setiap malam pasti ribut dengan bapakku,dan aku sudah tidak
heran lagi mendengarnya namun aku hanya heran kenapa kali ini seperti ada yang
membanting sesuatu, aku bergerak dari posisiku yang tengkurep melihat buku
menjadi berdiri mengintip kedua orang
tuaku lewat celah-celah dinding bambu kamarku, dan terlihat ibuku menangis dan
bapaku tiduran sambil melamun. aku tidak tau apa yang mereka bicarakan tapi
sepertinya ini berbeda dari biasanya, aku hanya diam tak berani berkata apapun
kecuali kembali ke posisi awalku . waktu menunjukan pukul tiga pagi namun aku
belum dapat tidur karena dalam hatiku selalu bertanya "mengapa ibu
menangis?" tetapi perlahan mataku tak mampu menahan kantuknya dan aku
tertidur dengan buku berserakan dikamarku.
Aku terbangun dari tidurku namun ternyata aku
masih merasa penasaran tanpa berikir aku berdiri dari tempat tidurku dan
mencari ibuku, namun aku hanya melihat bapak yang sedang membuat api untuk
memasak menggunakan kayu bakar, "ibu dimana pak?" tanyaku sambil
memegang gayung karena aku akan berwudhu untuk sholat subuh, "ibumu
ketempat nenek katanya kangen"jawab bapak. "tapi ibu kenapa tidak
pamit,kemaren sore? aji,ari,rudi kok gak diajak? Tanyaku sedikit memojokkan,
aku bertanya demikian karena biasanya adik-adiku pasti ikut saat ibuku
berkunjung ketempat nenek, dan bapak hanya menjawab "berangkatnya kepagian
jadi ibumu kasian mau bangunin adik-adikmu" bapak kelauar berpaling dari hadapanku,akupun
tak meragukan perkataan bapak, kemudian aku menuju ke sumur yang terletak di
belakang rumah untuk mengambil wudhu , selesai wudhu aku langsung menuju tempat
sholat yang terletak di sebelah kamar aji dan ari yang sedang tertidur pulas,
mungkin mereka lelah karena seharian bersama teman-temanya memancing di sungai.
Selesai sholat subuh aku menoleh ke arah adi-adiku dan tersenyum memandang kedua
adik ku yang sedang tidur.Dalam senyumanku itu aku teringat saat mereka berdua
ku beri pertanyaan seperti ini"apa cita-cita kalian ?" dengan cepat
aji menjawab "aku mau jadi mekanik!!" "aku mau jadi penebang
tebu!!! " sahut ari,kamipun tertawa lucu mendengarcita-cita adikku yang
satu ini. Bayanganku buyar ketika terdengar suara ayam yang berkokok
"kukuruyuuuuk.." terdengar merdu suaranya kemudian aku berdiri dari
tempat sholatku lalu kulanjutkan aktivitas hari mingguku,ibu sedang tidak
dirumah jadi minggu ini tugasku adalah menunggu warung Hoki milik kami tetapi sebelum
itu aku juga harus mencuci pakaianku dan adik-adiku terlebih dahulu.
Libur
yang tidak terlalu menyenangkan kali ini,padahal aku sudah memiliki rencana
bermain bola bersama teman-teman sedesa karena kami akan melawan tim desa tetangga. "huh,bosen"
kukatakan itu berung kali kemudian aku keluar dari warungku dan menuju ke
kamarku untuk mengambil buku, "grosek " suara itu terdengar dari
dalam kamar orang tuaku,jelas saja aku penasaran dan langsung berbelok kekiri
menuju kamar orang tuaku, ternyata hanya terlihat adik bungsuku yang sedang memakan
snack dan bapaku yang duduk menjaganya namun aku sedikit curiga ada sesuatu
yang bapak sembunyikan dibalik telapak tanganya seperti sebuah kertas yang di
lipat rapi, aku tidak bertanya tapi hanya mengerutkan kening dan bertanya-dalam
hati apa isi kertas itu,sayangnya terdengar suara seseorang di depan warung
jadi akupun bergegas mengambil buku latihan ujianku dan menuju warung untuk
melayani pembeli yang memanggilku saat itu. Rasa ingin tahuku yang berlebihan
membuatku berani masuk kekamar bapak lalu aku mencari kertas yang bapak genggam
tadi,dibawah kasur,kolong kamar,dalam lemari pakaian semuanya ku telusuri setiap
sudutnya namun aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan,karena saat itu
hanya tempat-tempat itulah yang kuanggap aman untuk menyembunyikan kertas itu.
akupun mulai menyerah tapi pandanganku berubah saat mataku menuju ke arah
tembok bambuyang nampak seperti kertas yang diselipkan di celah-celah bambunya,karena
takut bapak melihat aku pun mengambilnya lalu dengan hati-hati aku melangkah
keluar menuju belakang rumah yang sudah pasti bapak tidak akan tahu jika aku
mengambil kertas itu, dengan cepat aku membuka tanpa basa-basi aku langsung
membaca isinya, saat membacanya awalnya aku biasa saja namun semakin aku
memahami isinya semakin bibirku bergetar mengikuti irama jantungku yang juga
semakin berdetak cepat,"mungkinkah/benarkah/adakah?" dalam hatiku
muncul pertanyyan tersebut. Kalian tau apa isi surat tersebut?,isinya adalah
surat persetujuan pernikahan ibuku dengan seorang pria yang bernama Nur
hidayat, dalam surat itu tertulis bahwa bapak sebagai pihak pertama rela dan
iklas merima pihak ketiga dan menyerahkan ibu yang tertulis sebagai pihak kedua
untuk menjalin sebuah pernikahan dengan pihak ketiga yang bernama Nur Hidayat,
saat itu kalian tau apa yang aku rasakan Bingung,marah dan takut, aku bingung
bagaimana bisa seorang lelaki rela melepaskan istrinya untuk menikah dengan
lelaki lain , aku marah kepada orang tuaku yang tidak memikirkan nasib
anak-anaknya saat mereka mengambil keputusan itu, aku takut bagaimana mendengar
tanggapan dan penilaian orang tentang keluargaku. Aku berlari dengan meneteskan
air mata,dengan perasaan bercampur aduk. Aku menuju rumah kakak ku yang berada
tidak jauh dari rumah kami, "duk,duk,duk (menggedor pintu) Mas,,, mas
edi..mas!!!" aku mengulang dan menggedor berapa kali meskipun sudah
kudengar jawabanya "iya, sebentar.." mas edi membuka pintu dan
bingung melihatku yang masih dalam keadaan gemetar dan menangis "ada apa il,kok
pake nangis segala??" logat jawanya tetap dibawa saat bertanya demikian.
aku tak perlu menjelaskan apa-apa,aku langsung memberikan kertas itu kepada mas
edi dan beliau pun paham jika aku memintanya untuk membaca isi surat itu, mas
edi pun menunjukan expresi yang sama beliau terdiam dan menyenderkan kepalanya
di tiang pintu lalu menangis, "astagfirruwllohalal Aziiim,,,ya Allah
Pangeranku.." sebutnya sambil memegang kepalanya.
0 komentar:
Posting Komentar