Kumpulan Puisi,kata kata mutiara dan cerpen. semoga pembaca senang :)

Free Premium Blogger Theme by NewBloggerThemes.com

Kamis, 24 Desember 2015

05.05 | by Unknown | | No comments

Dua Ujian
Teng-teng suara bel menunjukan waktu pulang sekolah berbunyi, saaat itu namun kami siswa kelas 3 Smp tidak langsung pulang melainkan berlarian menuju mading sekolahan untuk melihat jadwal ujian akhir sekolah untuk para siswa kelas tiga.Aku tidak ingin kalah,aku berlari menggunakan tenaga extra dan hasilnya akulah yang paling pertama  berdiri di depan mading sekolahan, oh ya.. aku belum memperkenalkan diriku, namaku   ismail marjuki,guru dan teman-temanku memanggilku ismail,aku meliki tubuh yang tidak terlalu tinggi namun juga tidak terlalu pendek hidungku mancung, rambutku tipis dan berwarna kecoklatan dan kulitku lumayan bersih. "senin,MTK,PPKN,IPS" gumamku sambil menekan-nekan kertas yang ditempelkan dimading sekolahan tersebut. "il,ayo pulang, aku sudah sagat lapar " bujuk sulemi sambil menggeret tangaanku, Sulemi adalah sahabat sedesaku ia memiliki tubuh yang besar,berkulit hitam dan juga sering sekali tidur dan ngeces di meja sekolahan bahkan lemi di jauhi oleh siswi-siswi sekelas kami karena hal tersebut namun meski demikian sulemi sangat pintar dalam pelajaran sejarah sehingga terkadang banyak juga siswi yang bertanya kepadanya tentang pelajaran sejarah. Aku dan lemi termasuk anak yang beruntung didesa kami karena dari sekian anak yang berada dalam satu desa tempat kami  tinggal hanya lemi dan aku yang meneruskan hingga jenjang SMP. Karena anak-anak yang lain setelah mendapatkan ijasah SD mereka lebih memilih untuk bekerja menjadi buruh harian di perusahaan Gula yang cukup besar di daerah tempat kami tinggal,saat itu aku   tinggal di desa sidodadi, desa paling terpencil di kecamatan gedung meneng,kabupaten tulang bawang profinsi lampung,namun orang tuaku adalah orang jawa timur dan lingkungan di sekitarku terdiri dari suku jawa dan lampung namun aku lebih sering menggunakan bahasa jawa yang kasar dari pada menggunakan bahasa jawa timur ataupun lampung.
     "woy il,, aku yang laper"  temanku yang satu ini selalu demikian jika mengejek cara bersepedahku yang lamban dan expresiku yang lesu karena jarak dari rumah ke sekolahku cukup jauh yaitu  kurang lebih 5 km jaraknya, karena desa kami adalah desa paling ujung di kecamatan gedung meneng. "hei il,setelah  lulus kamu mau kemana? tanya lemi sambi mengayuh sepedanya,"aku juga gak tau lem,aku belum berfikir kesan"jawabku ragu. "oh.,kalau begitu kita balapan saja!!" seperti biasanya lemi selalu menantangku untuk berbalapan sepeda saat pulang maupun berangkat sekolah, tanpa menjawab aku langsung mempercepat ayuhan sepedahku sambil tertawa "hahaha...ye ayo kejar aku!!" lemi pun tak mau kalah,ia langsung mengayuh sepedahnya lebih kencang dariku  dan kamipun saling mengejar hingga sampai desa kami yang jaraknya dari sekolah kurang lebih 8 km. seperti biasa ketika aku pulang pasti dirumah tidak ada siapa-siapa. Rumahku terbuat dari bambu,sangat sederhana ibuku membuka warung kecil-kecilan dengan tulisan "warung Hoki "di dinding bambunya,itu adalah tulisanku yang  aku tulis menggunakan cat putih sisa mengecat pagar untuk persiapan agustusan tahun lalu. ibuku bernama umi hani dia wanita yang tidak mau mengandalkan ayahku yang hanya pemburuh harian dengan upah Rp 35.000,00/hari dari jam tujuh pagi sampai jam empat sore, karena itulah ibuku membantu biaya sehari-hari dengan berjualan tampah,ibuku berkeliling dari desa kedesa menggunakaan sepedah, bahkan akupun sering membantu ibu berjualan tampah saat hari minggu. Bapak ku bernama bambang mulyono, dia orang yang telaten dalam bekerja dan sangat pendiam dan pemalu.bahkan beliau jarang sekali menghadiri rapat orang tua wali disekolah kami. bukan hanya kami bertiga yang berada dirumah itu karena aku masih memiliki tiga orang adik yang bernama aji supriman , ari sholikin , rudi hartono yang masing masing berumur 13,9 dan 4 tahun. Adiku yang bernama aji supriman dan ari sholikin sudah tidak bersekolah, saat itu aku berfikir karena kenakalan merekalah kenapa mereka tidak mau bersekolah ditambah semua teman-teman seumuran mereka lebih suka mencari singkong untuk dijual ke pemasok dibandingkan duduk dan belajar di sekolah, dan anehnya lagi orang tua mereka justru mendukung pilihan mereka termasuk kedua orang tuaku yang membiarkan kedua adikku ikut dalam pemikiran anak-anak didesaku saat itu.selain adik-adiku aku juga memiliki empat orang kakak perempuan dan satu orang kakak laki-laki yang bernama Edi sujarwo ia sudah menikah dan memiliki Empat orang anak. Kemudian kakak perempuanku yang pertama  bernama Ratna wati mbak ratna sudah memiliki empat orang anak,kemudian Neli kusmiati dan yuliati mtareka  duduk di kelas yang sama yaitu kelas tiga SMA,mereka tidaklah kembar tetapi karena dulu mbak neli berhenti sekolah selama satu tahun jadi mbak neli harus bersekoh satu kelas dari mbak yuli. Mbak neli dan yuli tinggal bersama  adik-adik ibuku,karena keluarga kami tidak mampu membiayai sekolah mereka jadi iorang tuaku menitipkan mereka kepada adik-adik ibuku yang bisa dibilang kaya dan sukses mereka  mengasuh kakak-kakaku saat mereka berusia 8 dan 10 tahun ,kakak perempuanku yang terakhir bernama Rita wahyuni ,beliau adalah kakak perempuanku yang sering ku panggil uni,wajahnya sangat mirip denganku,kami juga berada di kelas yang sama uniku ini sama seperti mbak neli yang berhenti bersekolah selama setahun dikarnakan masalah biaya padahal biaya sekolah saat itu hanyalah tiga ribu rupiah/bulan karena dulu belum ada bantuan BOS dari pemerintahan,lalu karena ingin bersekolah uni ku ini memutuskan untuk ikut bersama nenekku di kabupaten pringsewu beliau adalah ibu dari ibuku dan nenekku tinggal bersama adik ibuku yang paling bungsu , namun kakak-kakak perempuanku yang ikut dengan saudara ibuku tidak hanya diasuh kemudian leha-leha dirumah saja melainkan mereka membantu mengerjakan pekerjaan rumah,maklum adik-adik ibuku bisa dibilang orang yang kaya dan sibuk.
            Saat itu pukul 24.29 wib aku masih serius dengan buku latihan ujian nasional yang akan di diadakan pada hari senin, meskipun besok libur namun aku tetap semangat untuk memngisi setiap pertanyaan nya. "Brakk,,pokoknya sampean  harus setuju!!" tedengar suara ibuku yang seperti biasa setiap malam pasti ribut dengan bapakku,dan aku sudah tidak heran lagi mendengarnya namun aku hanya heran kenapa kali ini seperti ada yang membanting sesuatu, aku bergerak dari posisiku yang tengkurep melihat buku menjadi berdiri  mengintip kedua orang tuaku lewat celah-celah dinding bambu kamarku, dan terlihat ibuku menangis dan bapaku tiduran sambil melamun. aku tidak tau apa yang mereka bicarakan tapi sepertinya ini berbeda dari biasanya, aku hanya diam tak berani berkata apapun kecuali kembali ke posisi awalku . waktu menunjukan pukul tiga pagi namun aku belum dapat tidur karena dalam hatiku selalu bertanya "mengapa ibu menangis?" tetapi perlahan mataku tak mampu menahan kantuknya dan aku tertidur dengan buku berserakan dikamarku.
     Aku terbangun dari tidurku namun ternyata aku masih merasa penasaran tanpa berikir aku berdiri dari tempat tidurku dan mencari ibuku, namun aku hanya melihat bapak yang sedang membuat api untuk memasak menggunakan kayu bakar, "ibu dimana pak?" tanyaku sambil memegang gayung karena aku akan berwudhu untuk sholat subuh, "ibumu ketempat nenek katanya kangen"jawab bapak. "tapi ibu kenapa tidak pamit,kemaren sore? aji,ari,rudi kok gak diajak? Tanyaku sedikit memojokkan, aku bertanya demikian karena biasanya adik-adiku pasti ikut saat ibuku berkunjung ketempat nenek, dan bapak hanya menjawab "berangkatnya kepagian jadi ibumu kasian mau bangunin adik-adikmu" bapak kelauar berpaling dari hadapanku,akupun tak meragukan perkataan bapak, kemudian aku menuju ke sumur yang terletak di belakang rumah untuk mengambil wudhu , selesai wudhu aku langsung menuju tempat sholat yang terletak di sebelah kamar aji dan ari yang sedang tertidur pulas, mungkin mereka lelah karena seharian bersama teman-temanya memancing di sungai. Selesai sholat subuh aku menoleh ke arah adi-adiku dan tersenyum memandang kedua adik ku yang sedang tidur.Dalam senyumanku itu aku teringat saat mereka berdua ku beri pertanyaan seperti ini"apa cita-cita kalian ?" dengan cepat aji menjawab "aku mau jadi mekanik!!" "aku mau jadi penebang tebu!!! " sahut ari,kamipun tertawa lucu mendengarcita-cita adikku yang satu ini. Bayanganku buyar ketika terdengar suara ayam yang berkokok "kukuruyuuuuk.." terdengar merdu suaranya kemudian aku berdiri dari tempat sholatku lalu kulanjutkan aktivitas hari mingguku,ibu sedang tidak dirumah jadi minggu ini tugasku adalah menunggu warung Hoki milik kami tetapi sebelum itu aku juga harus mencuci pakaianku dan adik-adiku terlebih dahulu.
    Libur yang tidak terlalu menyenangkan kali ini,padahal aku sudah memiliki rencana bermain bola bersama teman-teman sedesa karena kami akan melawan tim  desa tetangga. "huh,bosen" kukatakan itu berung kali kemudian aku keluar dari warungku dan menuju ke kamarku untuk mengambil buku, "grosek " suara itu terdengar dari dalam kamar orang tuaku,jelas saja aku penasaran dan langsung berbelok kekiri menuju kamar orang tuaku, ternyata hanya terlihat adik bungsuku yang sedang memakan snack dan bapaku yang duduk menjaganya namun aku sedikit curiga ada sesuatu yang bapak sembunyikan dibalik telapak tanganya seperti sebuah kertas yang di lipat rapi, aku tidak bertanya tapi hanya mengerutkan kening dan bertanya-dalam hati apa isi kertas itu,sayangnya terdengar suara seseorang di depan warung jadi akupun bergegas mengambil buku latihan ujianku dan menuju warung untuk melayani pembeli yang memanggilku saat itu. Rasa ingin tahuku yang berlebihan membuatku berani masuk kekamar bapak lalu aku mencari kertas yang bapak genggam tadi,dibawah kasur,kolong kamar,dalam lemari pakaian semuanya ku telusuri setiap sudutnya namun aku tidak mendapatkan apa yang aku inginkan,karena saat itu hanya tempat-tempat itulah yang kuanggap aman untuk menyembunyikan kertas itu. akupun mulai menyerah tapi pandanganku berubah saat mataku menuju ke arah tembok bambuyang nampak seperti kertas yang diselipkan di celah-celah bambunya,karena takut bapak melihat aku pun mengambilnya lalu dengan hati-hati aku melangkah keluar menuju belakang rumah yang sudah pasti bapak tidak akan tahu jika aku mengambil kertas itu, dengan cepat aku membuka tanpa basa-basi aku langsung membaca isinya, saat membacanya awalnya aku biasa saja namun semakin aku memahami isinya semakin bibirku bergetar mengikuti irama jantungku yang juga semakin berdetak cepat,"mungkinkah/benarkah/adakah?" dalam hatiku muncul pertanyyan tersebut. Kalian tau apa isi surat tersebut?,isinya adalah surat persetujuan pernikahan ibuku dengan seorang pria yang bernama Nur hidayat, dalam surat itu tertulis bahwa bapak sebagai pihak pertama rela dan iklas merima pihak ketiga dan menyerahkan ibu yang tertulis sebagai pihak kedua untuk menjalin sebuah pernikahan dengan pihak ketiga yang bernama Nur Hidayat, saat itu kalian tau apa yang aku rasakan Bingung,marah dan takut, aku bingung bagaimana bisa seorang lelaki rela melepaskan istrinya untuk menikah dengan lelaki lain , aku marah kepada orang tuaku yang tidak memikirkan nasib anak-anaknya saat mereka mengambil keputusan itu, aku takut bagaimana mendengar tanggapan dan penilaian orang tentang keluargaku. Aku berlari dengan meneteskan air mata,dengan perasaan bercampur aduk. Aku menuju rumah kakak ku yang berada tidak jauh dari rumah kami, "duk,duk,duk (menggedor pintu) Mas,,, mas edi..mas!!!" aku mengulang dan menggedor berapa kali meskipun sudah kudengar jawabanya "iya, sebentar.." mas edi membuka pintu dan bingung melihatku yang masih dalam keadaan gemetar dan menangis "ada apa il,kok pake nangis segala??" logat jawanya tetap dibawa saat bertanya demikian. aku tak perlu menjelaskan apa-apa,aku langsung memberikan kertas itu kepada mas edi dan beliau pun paham jika aku memintanya untuk membaca isi surat itu, mas edi pun menunjukan expresi yang sama beliau terdiam dan menyenderkan kepalanya di tiang pintu lalu menangis, "astagfirruwllohalal Aziiim,,,ya Allah Pangeranku.." sebutnya sambil memegang kepalanya.

0 komentar:

Posting Komentar